🎓 Rektor ITBA Dian Cipta Cendikia: Minat Jadi Dosen Menurun, Ini Kunci Agar Profesi Ini Kembali Menarik
BANDAR LAMPUNG – Fenomena menurunnya minat generasi muda untuk menekuni profesi dosen menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan tinggi. Menurut Dr. H. Muhammad Syaukani, ST., SH., M.Cs., M.Pd., M.Kom., selaku Rektor ITBA Dian Cipta Cendikia Bandar Lampung, persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja.
“Masalahnya bukan semata soal besaran penghasilan, melainkan bagaimana negara dan perguruan tinggi memposisikan profesi dosen sebagai pilar strategis dalam pembangunan bangsa,” tegasnya.
Ia menegaskan, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai jika profesi dosen justru kehilangan daya tarik bagi talenta terbaik negeri ini. Sebab, seluruh inovasi, riset, dan pembentukan sumber daya manusia bermula dari kualitas dosen yang mengajar dan membimbing di perguruan tinggi.
Kesejahteraan dan Penghargaan Harus Berjalan Beriringan
Menurut Rektor, penerapan sistem meritokrasi berbasis kompetensi, produktivitas riset, dan kontribusi kepada masyarakat adalah langkah yang tepat. Namun, sistem ini tidak akan berjalan maksimal tanpa fondasi yang kuat.
“Meritokrasi hanya sehat jika kesejahteraan dosen sudah terjamin. Kita tidak bisa menuntut publikasi internasional, penemuan paten, atau kolaborasi global jika mereka masih sibuk memikirkan kebutuhan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Ia mengusulkan dua kebijakan utama yang harus dijalankan bersamaan:
âś… Menjamin standar kesejahteraan minimum bagi seluruh dosen
âś… Memberikan insentif kompetitif bagi mereka yang berprestasi dan berkinerja tinggi
Kurangi Beban Administrasi, Kembalikan Fokus ke Tri Dharma
Selain kesejahteraan, Dr. Syaukani juga menyoroti beban birokrasi yang membebani. Banyak dosen saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan administrasi ketimbang mengajar, meneliti, atau berinovasi.
“Transformasi digital kampus harus benar-benar meringankan beban ini, agar dosen bisa kembali fokus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengubah paradigma karier dosen. Ke depannya, dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tapi juga harus menjadi peneliti, inovator, mitra industri, hingga kolaborator tingkat dunia. Dengan ekosistem yang mendukung, profesi ini akan kembali memiliki nilai ekonomi dan kehormatan sosial yang tinggi.
Investasi Terbaik untuk Masa Depan
“Investasi terbaik bangsa bukan hanya membangun gedung megah atau laboratorium canggih, tapi membangun kualitas manusianya. Dan kualitas manusia Indonesia sangat bergantung pada kualitas dosennya,” pungkasnya.
Membuat profesi dosen kembali diminati bukan sekadar kepentingan kampus, melainkan langkah strategis untuk memastikan generasi penerus bangsa tumbuh berkualitas dan siap membawa Indonesia melangkah lebih maju. Sumber: Juna
