Pangdam XXI/Radin Inten & Gubernur Lampung Tinjau Pembangunan Fasilitas Mitigasi Manusia–Gajah di Way Kambas

Screenshot_20260902-073313

LAMPUNG TIMUR — Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi, S.Sos., M.Si. (Han) beserta jajaran, didampingi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, S.T., M.M., Kapolda Lampung, dan Bupati Lampung Timur, meninjau progres pembangunan fasilitas mitigasi konflik manusia dan gajah di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Senin (31/8/2026).

🏗️ Pembangunan Capai 65 Persen, Ditarget Selesai Oktober 2026

Pembangunan yang dikoordinasikan komite mitigasi telah mencapai sekitar 65 persen, mencakup pemasangan pagar besi di sejumlah titik strategis kawasan. Fasilitas ini ditargetkan rampung pada Oktober 2026 sebagai langkah strategis mencegah gajah keluar dari habitatnya dan masuk ke permukiman warga.

“Memang untuk memitigasi konflik antara manusia dengan gajah. Kita lihat di sepanjang ini ada pagar-pagar besi yang sudah dibuat,” jelas Pangdam XXI/Radin Inten.

🌿 Tak Hanya Pagar — Pendekatan Lingkungan & Ekonomi Masyarakat

Pangdam menegaskan upaya mitigasi tidak berhenti pada pembatas fisik. Pemerintah juga mengembangkan budidaya tanaman dan hewan yang tidak disukai gajah — seperti serai dan lebah — guna menjaga batas sekaligus memberi nilai ekonomi bagi warga sekitar.

“Serai dan lebah ini tidak disukai gajah sehingga turut menjaga supaya gajah tidak keluar. Hasilnya juga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar, seperti madu dan serai,” ujarnya.

✈️ Way Kambas Menuju Ekowisata Internasional

Way Kambas terus diarahkan menjadi pusat ekowisata bertaraf internasional dengan penguatan fasilitas konservasi, perawatan gajah, serta peningkatan kapasitas mahout atau pawang gajah. Bahkan direncanakan studi banding ke Thailand untuk mengadopsi metode pengelolaan dan perawatan gajah yang lebih optimal.

🔥 Pengawasan Ketat & Antisipasi Karhutla

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menambahkan, kolaborasi TNI, Polri, dan Pemda terus memperkuat pengawasan kawasan, termasuk kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Langkah antisipasi juga mencakup teknologi modifikasi cuaca/hujan buatan serta pemantauan rutin dan sosialisasi kepada masyarakat.

“Teman-teman dari Kodam, teman-teman dari kepolisian masih standby di sini. Ada yang melakukan sosialisasi, ada juga yang monitoring,” kata Gubernur.

Kolaborasi lintas sektor ini menjadi fondasi penting menjaga Way Kambas — bukan hanya sebagai rumah bagi satwa liar, tetapi juga kawasan konservasi yang aman bagi masyarakat dan bernilai strategis bagi masa depan ekowisata Lampung.

Sumber: Pendam XXI Radin Inten
(Red)